kiyomilittlewish

Kiyomi Little Wish : #Heartthrob | a Story Behind (Part 2)

Januari 09, 2018



Setelah sebelumnya aku membahas tentang proses penulisan Kiyomi Little Wish : #Heartthrob, sekarang aku mau sedikit sharing tentang bagaimana prosesku mengirimkannya ke penerbit hingga menjadi novel cetak.


Sebelum menulis cerita, aku sudah browsing-browsing tentang penerbit yang menerima naskah penulis pemula. Pas ketemu Grasindo, aku lihat banyak novel K-Fiction yang diterbitkan. Karena aku juga suka Korea, maka aku pikir ini adalah salah satu sinyal positif.


Di tulisanku sebelumnya, aku mengatakan bahwa alasanku menampilkan karakter orang Korea adalah karena berkaitan dengan wish Kiyomi dan jalan cerita. Emm… sebenarnya tidak hanya itu.


Waktu itu aku berpikir kalau aku ingin mencoba mengirimkannya ke Grasindo, setidaknya harus ada unsur Korea-nya supaya bisa masuk ke K-Fiction. Karena itulah aku memasukkan karakter Daehan. Karena itu jugalah kenapa Kiyomi memiliki darah Korea dari sang Eomma. Yah, hitung-hitung menaikkan probabilitas supaya diterima.


Terus terang, aku mengirimkan naskah Kiyomi Little Wish: #Heartthrob bermodal nekat. Gimana nggak? Baru di tahun 2016 aku suka membaca. Dulunya? Eww… bahkan untuk menyentuh buku saja sepertinya aku enggan (ini serius loh. Aku rada skeptis gitu sama yang namanya membaca). Pengalamanku juga masih nol besar. Nama besar? Eii… siapalah aku ini.


Apalagi waktu itu (sampai sekarang juga sih) beberapa penerbit lagi gencar-gencarnya menerbitkan naskah dari dunia oranye. Lagi-lagi, siapalah aku ini. Jangankan dibaca jutaan orang, tahu dunia oranye saja tidak. Aku tahunya juga dari salah satu anak SMA yang memberi tahu aku kalau sekarang teman-temannya lagi suka baca di dunia oranye.


Lalu, kenapa masih tetap nekat ngirim?


Yah, karena kalau tidak dicoba, kita mana tahu hasilnya. Kalau ditolak ya berarti bukan rezeki aku, kalau diterima ya… Alhamdulillah ^^


Dan, beberapa minggu kemudian, di suatu siang, waktu aku sedang duduk-duduk di terminal menanti kedatangan bus, ada surel masuk dari salah satu editor di Grasindo yang mengatakan bahwa naskahku diterima. Kalau tidak ingat sedang berada di tempat umum, mungkin aku sudah salto berkali-kali saking senangnya. It’s like a dream. Semuanya karena izin Allah. Really, tanpa izin-Nya, naskahku tentu tidak akan diterima.


Perjalanan naskah ini hingga bisa dipajang di toko-toko buku memang tidak mudah. Membutuhkan waktu yang sangat lama. Butuh kesabaran ekstra untuk menantikan kelahiran bayi pertamaku ini. Memang ada sih saat-saat aku merasa gundah gulana, kenapa belum dapat kabar tentang perkembangan naskahku, tetapi aku mencoba untuk tetap bersabar.


Dan, kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil ketika novelku sudah ada di toko buku. Rasanya, lagi-lagi, seperti mimpi. Mana pernah sih aku membayangkan bukuku bisa dipajang di toko buku?


Intinya, kalau mau jadi penulis, kamu harus banyak nulis, banyak baca, teliti, sabar, pantang menyerah dan tangguh.


Minder karena belum punya nama?

Udah, coba aja dulu. Hehehe….

Kita nggak ada yang tahu gimana skenario hidup akan membawa kita, kan?





Oh, ya, kalian sudah baca Kiyomi Little Wish: #Heartthrob belum? Kalau belum, boleh pakai banget loh kalau mau diadopsi ^^. 
Kalau sudah beli dan baca, sudah rate di Goodreads?



Luv,






Dhea Safira

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe



Dhea on Wattpad