#4R1A

Book Review | The Chronicles of Audy : 4R

Agustus 06, 2016



“Family means no one gets left behind or forgotten” –David Ogden Stiers

[Diikutkan dalam kontes review Seri Audy]

Judul                              : The Chronicles of Audy: 4R
Penulis                          : Orizuka
Penyunting                   : Tia Widiana
Cover dan ilustrasi      : Bambang 'Bambi' Gunawan
Proofreader                 : Yuli Yono
Penerbit                       : Haru
ISBN                              : 978-602-7742-21-5
Jumlah Halaman         : 320 halaman
Cetakan pertama, Juli 2013

*************************************************************************

Hai. Namaku Audy.
Umurku 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.

Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar sarjanaku.
Selangkah lagi!

Tapi kedua orangtuaku rupanya tega merusak momen itu.

Jadi sekarang, di sinilah aku berada.
Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya: Regan, Romeo, Rex dan Rafael.


Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter,
 dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu!

Terdengar klise?
Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet.

Kronik dari seorang Audy.


Ini adalah seri pembuka dari tetralogy The Chronicles of Audy. Seri pembuka yang sukses membuat diriku ini langsung terhanyut dalam cerita.

Sesuai dengan sinopsis yang disuguhkan di cover belakang, novel ini bercerita tentang kronik hidup seorang Audy Nagisa yang harus rela menjadi babysitter-garis-miring-pembantu akibat kebodohan  keluguan orangtuanya.

Jadi ceritanya, orangtuanya si Audy ini ditipu ole investasi bodong (lagi) yang membuat uang mereka habis tak bersisa, termasuk di dalamnya uang yang sejatinya digunakan untuk membayar kosan dan biaya perkuliahan Audy.

Padahal, hanya tinggal selangkah lagi Audy bisa memakai toga di kepalanya. Namun rencana itu jadi hancur berkeping-keping, tak bersisa.

Untunglah, Tuhan tidaklah setega itu padanya. Pertolongan itu datang melalui sebuah iklan di surat kabar yang membutuhkan jasa seorang babysitter. Merasa itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan begitu saja, Audy pun melamar pekerjaan tersebut.


Setelah melalui serangkaian kejadian memalukan, Audy pun akhirnya diterima bekerja di rumah 4R tersebut. Regan Rashad, yang notabene orang yang mengiklankan lowongan tersebut, memberikan Audy sebuah kontrak yang harus ditandatanganinya sebelum resmi menjadi babysitter di rumah itu. Terasa aneh? Mungkin bagi kita iya, tapi tidak bagi Regan. Dia yang berprofesi sebagai pengacara (ganteng pula) memang terbiasa dengan segala sesuatu yang berbau perjanjian dan sebagainya. Audy yang dari awal telah terpesona oleh kegantengan Regan, mau-mau saja ketika disuruh menandatangani kontrak.

Dasar si Audy yang membawa gen keluguan orangtuanya, dari sekian banyak point yang ada di kontrak tersebut, dia hanya peduli terhadap satu point yang mengatakan kalau gajinya bisa dibayar di muka. Gara-gara itu, dia harus menanggung segala konsekuensi yang sebelumnya mungkin tidak terpikir olehnya.

Konsekuensi yang aku maksud adalah Audy tidak hanya menjadi babysitter, tapi juga merangkap pembantu. PEMBANTU.

Di rumah itu, dihuni oleh 4R. Empat bersaudara yang berbeda umur, juga berbeda kepribadian. Biar aku jabarkan masing-masing cowok tersebut.

R1. Regan Rashad
Anak tertua. Usianya 26 tahun. Seorang pengacara tampan dengan senyum menawan, juga berlesung pipit. Bertanggung jawab. Sosok yang nyaris sempurna, pekerja keras, tapi perhitungan













R2. Romeo Rashad
Anak kedua. Usianya 22 tahun. Lulusan Teknik Informatika yang lulus dengan summa-cumlaude. Sosok pemalas yang takut air, senang bermain game dan hacking, walaupun paling ramah.














R3. Rex Rashad
Si anak ketiga yang seharusnya menjadi anak bungsu kalau saja si adik tidak lahir secara mengejutkan. Sosok terpelajar yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk prestasi akademis, tapi tertutup dan sensitif. Genius tingkat dewa (Suer, aku nggak bohong). Usianya 17 tahun. Paling misterius di antara ketiga saudaranya. Paling irit omong, juga paling bersih kamarnya. Jadi, si Rex ini punya penyakit asma. Karena itu, ke mana-mana dia selalu memakai masker sekali pakai. Karena tidak bisa memakai parfum, sebagai gantinya Rex menggunakan esensi peppermint. Oh ya, dia juga jago masak lho (kalau lagi mood).







R4. Rafael Rashad
Anak bungsu dari keluarga Rashad. Usianya baru 4.5 tahun tapi gaya bicaranya sudah seperti anak gede. Sama seperti Rex, Rafael juga termasuk bayi genius. Emm…. sebenarnya sih kurang tepat dikatakan bayi. Maksudku, halo…. bayi mana yang akan membaca majalah Playboy? Kalau kata Audy, Rafael adalah sosok balita gadungan yang memiliki semua sifat kakak-kakaknya.










Audy Nagisa
Yah, dia memang bukan 4R sih, tapi kasihan kalau profilnya nggak ikut aku cantumkan. Audy ini super duper konyol dan pikirannya kelewat paranoid. Kalau kata Audy sendiri, dia hanyalah sosok gadis bodoh yang tergoda gaji di muka yang dipakai orang tidak bertanggung jawab untuk membeli Wii sehingga harus diusir dari kos dan terdampar di rumah berisi cowok-cowok yang baru dideskripsikan tadi.










Ada yang terasa kurang? Ke mana orangtua 4R?
Mereka telah meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan mobil. Karena itulah Rafael tumbuh menjadi anak yang….. yang…. yang seperti itulah. Itu karena ketiga kakaknya tidak tahu harus bagaimana dalam menumbuhkembangkan seorang bayi yang pada saat itu baru berusia 2 tahun.

Gara-gara gaji pertamanya Audy digunakan Romeo untuk membeli Wii (panjang ceritanya), Audy akhirnya terdampar di rumah 4R. Dia menempati paviliun yang berada terpisah dari rumah utama.

Kebayang dong gimana ribetnya Audy harus menghadapi 4 cowok tersebut? Belum lagi ia harus segera membuat outline skripsinya yang oh-betapa-membuat-kepala-puyeng. Mengerjakan skripsi tanpa gangguan saja rasanya sudah melelahkan. Bagaimana jadinya jika mengerjakan skripsi disambi menjadi babysitter-garis-miring-pembantu dengan ‘majikan’ yang berperangai unik? *sigh*

Oh iya, Audy yang awalnya naksir Regan harus menghadapi sebuah kenyataan kurang menyenangkan tentang masa lalu Regan. Kira-kira apa?

Keistimewaan buku ini adalah pada alurnya yang mengalir dengan tenang, membawaku terhanyut dalam bacaan. Karakter-karakter yang terasa hidup, dan tentu saja kekonyolan Audy.
“Selama beberapa saat, aku tercenung menatap tembok dengan gagang telepon masih menempel di telinga. Ketika pintu kamar Rex egayun terbuk dan dia keluar sambil menatapku dengan dahu mengerut, barulah aku menyadari beberapa hal. Kalau aku adalah objek penipuan dan penindasan dari sosok intelektual nan ganteng bernama Regan. Kalau ternyata, aku jauh lebih bodoh dari yang kuduga.”

“Selamat tinggal skripsi. Selamat tinggal gelar. Selamat tinggal dunia. Aku tamat sampai di sini.”

“Ini mengerikan. Cowok ini mengerikan. Maniak!”
Itu adalah beberapa kalimat Audy yang –serius– bikin aku ngakak hingga nyaris terjengkang.

Mbak Orizuka benar-benar brilian. Segalanya seperti sudah terpikir dengan matang. Konsepnya, tokoh-tokohnya, karakter-karakternya, setting-nya, dan detail-detail kecil lainnya.

Konflik yang ada pun boleh dibilang tidak terlalu rumit. Jenis konflik yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi, benar-benar membuat penasaran pembaca.

Nilai lebih lain yang dimiliki novel ini, yang jarang aku temukan di novel lain, adalah packaging-nya yang eye-catching dan bikin mupeng. 

Aku benar-benar harus memberikan sebanyak-banyaknya jempol untuk Kak Bambi atas desain cover juga ilustrasi tokoh-tokohnya.

Di tiap buku, kita akan mendapat satu bookmark dari 5 bookmark yang disediakan oleh penerbit. 




Outline skripsi Audy yang selalu setia nangkring di hampir tiap bab

Bling-bling merah yang menghiasi pinggiran novel.
Satu hal yang terjadi begitu para pembaca membaca novel ini adalah munculnya shipping (jodoh-jodohan gitu) antara Audy dengan salah satu dari 4R. Mulai muncullah #TeamRegan #TeamRomeo #TeamRex bahkan #TeamRafael.

Para shipper tersebut saling memberikan argument tentang siapa yang cocoknya dengan Audy atau kenapa ‘R’-nya mereka itu layak diidolakan *halah*

Kalau aku, sedari awal aku sudah menjadi #TeamRex. Walaupun, jujur saja, aku bukan orang yang suka dengan berondong.
Normalnya diriku, aku semestinya menjadi #TeamRegan ataupun #TeamRomeo.
Terkhusus buat Romeo, kami saling berbagi kesamaan, lho. Sama-sama anak Informatika, sama-sama takut air, sama-sama suka tidur, dan sama-sama males *hihihi*

Tapi, entahlah. Pesona Rex terlalu menyilaukan untuk aku hiraukan.

Akhir kata, sebagai sebuah pembuka….. novel ini adalah pembuka yang menggugah selera untuk lanjut menikmati seri-seri selanjutnya.

4.27 / 5.00 for this amazing novel ^_^

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe



Dhea on Wattpad