#4R1A

Book Review | The Chronicles of Audy : 4/4

Agustus 06, 2016


“The purpose of our lives is to be happy” –Dalai Lama


[Diikutkan dalam kontes review Seri Audy]

Judul buku                   : The Chronicles of Audy : 4/4
Penulis                         : Orizuka
Penyunting                  : Yuli Yono
Cover dan illustrator   : Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit                      : Haru
Nomor ISBN                : 978-602-7742-53-6
Jumlah Halaman         :314 halaman
Cetakan pertama, Juni 2015

*************************************************************************

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya,
tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini,
seperti biasa, muncul masalah lainnya.


Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan!

Aku tidak ingin mereka tercerai-berai,
tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku
yang masih saja ribet.

Kronik dari seorang Audy.



Melanjutkan dari kronik kehidupan Audy yang masih saja ribet, di novel ketiga ini ada bumbu-bumbu cinta yang lebih banyak daripada novel terdahulu.

Ya cinta kepada keluarga, juga *ehem*…… cinta kepada lawan jenis.

Meski pada akhir buku kedua tidak dijelaskan secara tersurat tentang jawaban Audy terhadap si Rex yang menembaknya, tapi tentulah sebagai pembaca (apalagi yang daya imajinasinya tinggi) bisa menerka-nerka apa maksud ucapan si Audy.
 
“Kamu, Rex Rashad, adalah entitas yang membuatku jadi mengharapkan hal-hal yang sebelumnya nggak pernah kupikirkan. Kamu harus tanggung jawab. Cepat jadi orang yang bisa kuandalkan, lalu minta jawabanku.”

Tapi, menyukai remaja 17 tahun yang labil tapi genius itu susah-susah gampang. Si Audy kerja keras banget supaya bisa menjadi layak di mata Rex, apalagi Audy mendapati fakta kalau IQ Rex itu 152!

Gara-gara Rex bilang kalau IQ bisa bertambah -salah satunya dengan main kubik-rubik- jadilah Audy bersemangat main kubik-rubik, meninggalkan skripsinya yang entah sudah berapa lama tidak dia selesaikan.

Perkembangan skripsi Audy? Entahlah.
Audy-nya aja nyantai, kenapa kita-kita yang pada heboh. *Hehehe*

Seperti biasa, bukan Audy namanya kalau nggak bikin dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya malu. Banyak banget adegan memalukan yang bikin aku sampai geleng-geleng kepala. Audy….. Audy…..
Apalagi semenjak dia ingin selevel dengan Rex, which is kinda impossible. Dan nahasnya, Rex yang sering jadi korbannya. Karena itu, Audy sering sekali tanya ke Rex “Kamu masih suka aku, Rex?”

Maura juga dapet porsi banyak di sini. Dia salah satu tempat Audy curhat, terutama kalau itu ada hubungannya dengan kelabilan Rex juga tentang keinginannya menyamai Rex.


“Kalau yang kamu maksud, kamu mau menyamai dia….. tentu sulit,” katanya kemudian. “Susah menebak jalan pikirannya. Apalagi mengejar langkahnya."

“Dari awal, Rex berjalan sendirian. Dia berlari sendirian. Regan punya ayahnya. Romeo punya ibunya. Begitu Rafael lahir, Rafael punya semuanya,” kata Maura lagi. “Tapi Rex, Rex selalu sendirian. Nggak ada yang benar-benar memahaminya.”


*Sini deh Rex, aku temenin*

Aku sedikit mengerti tentang si Rex ini. Keluarganya selalu memberi ruang tersendiri bagi Rex, mengira itu yang memang diperlukan Rex. Tapi justru, ruang itu menjadikan jarak tak kasat mata antara Rex dan keluarganya.
Orang-orang seperti Rex ini, meski tampak luarnya acuh dan sok nggak butuh perhatian, tapi sebenarnya dia juga menginginkan hal itu. Dia ingin diperlakukan seperti pada umumnya. Wajar kalau semakin hari, Rex semakin pendiam.

Eh tapi, masalah nggak cuma milik Audy seorang. 4R punya masalah sendiri-sendiri. Dan semua itu berhubungan dengan rencana masa depan. Khusus Audy dan Romeo, ada unsur masa lalunya juga, sih.

Bisa dibilang inti konflik di seri ini adalah tentang sebuah perubahan, yang berhubungan dengan masa depan, yang karena itu menyebabkan 4R diambang perpisahan.


"Aku cuma nggak peduli tempat kita tinggal," katanya, membuat mata Romeo melebar."Yang penting, aku tahu ke mana harus pulang."


Rencana Rex ini membuat Audy, lagi-lagi galau karenanya.
Aku paham, bukan rencana itu yang bikin Audy marah sama Rex, tapi kenapa Rex nggak memberitahu sebelumnya. Itu seperti Rex nggak menganggap Audy penting. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Tau sendiri kan jalan pikirannya orang genius seperti apa? Lebih rumit daripada logaritma sekalipun.

Satu hal yang tidak aku sangka. Jika di buku sebelumnya tidak ada tanda-tanda Romeo ada rasa dengan Audy, di buku ini….. emm…… Romeo mulai ‘berbicara’.


Romeo menepuk kepalaku. “That’s my girl.”


Bahkan aku berani bertaruh, #TeamRomeo pasti akan langsung bersorak sorai saking girangnya. Di buku ini juga (menurutku) terjadi awal perdebatan apakah Audy akan berakhir dengan Romeo atau dengan Rex.
Seperti yang pernah aku bilang, meski penampilannya seperti tunawisma, dan hidupnya kelewat santai, Romeo adalah yang paling perasa di antara semuanya. Jomplang banget.
Tapi, somehow, sifat Romeo ini seperti diriku *bukannya mau nyama-nyamain*. Kalau dilihat dari mukanya, sepertinya dia adalah orang yang paling santai di dunia, yang nggak punya masalah apa pun. Tapi justru, sebenarnya dia memikirkan banyak hal, mengkhawatirkan keluarganya, hanya saja dia lebih memilih tidak menampakkannya. Dia lebih memilih menyimpan masalah dalam hati.


“Mas Regan ternyata kesulitan menghidupi kami. Rex punya cita-cita sendiri. Rafael dikeluarin dari sekolah. Memang cuma aku yang hidup nyaman.”


Bumbu-bumbu cinta segitiga ini yang menurutku menjadi salah satu hal yang membuat aku tertarik. Selain tentunya ceritanya yang bikin ngakak, senyum-senyum sendiri, sedih, campur jadi satu, kayak bibimbap.

Audy masih sama, konyol dan memalukan seperti biasanya.
Regan, masih bijaksana dan bertanggung jawab seperti dulu.
Romeo, masih sok santai namun sisi perasanya terasa sekali.
Rex, masih sok cuek -tapi tetep membuat nuna-nuna kleper-kleper.
Rafael, masih si bayi genius yang so sweet sekali di sini.
Interaksinya dengan Audy bikin aku senyum-senyum sendiri. Untung si anak ini masih bayi. Kalau dia udah gede, bisa jadi saingan beratnya Rex dan Romeo untuk mendapatkan Audy.

Oh ya, Si Regan di sini…. kelihatan banget rasa sayangnya sama adik-adiknya. Dan dia membuktikan ucapannya kalau dia bakal memperlakukan Audy seperti memperlakukan adik-adiknya. Beruntungnya punya kakak macam Regan. Dia juga so sweet banget sama Maura, bikin baper ^^


"Jangan lupa Dy, kalau Rex hanya 1/4," kata Regan lagi. "3/4 sisanya juga membutuhkan kamu, sama besarnya."


Si Missy ini meski scene-nya nggak banyak, tapi mampu membuat si Audy kembali ke alam sadarnya. Yah, gaya bicaranya sedikit sarkastis, tapi….. kalau nggak gitu…. Audy akan kehilangan arah dan semakin terjebak dalam delusinya.


“Itu jelas!” sembur Missy lagi. “Apa lo bahkan pernah bisa mikir, Dy?”


Quote favoritku :


"Apa sih Rex yang bikin kamu suka aku?" tanyaku, tak tahan lagi.

"Maksudku, selain teori Plato itu. Harusnya, secara hukum alam atau apalah, kamu gemes -bukan dalam artian baik- sama orang-orang kayak  aku, kan? Aku... salah satu orang yang nggak bisa ngerjain soal logaritma
mudah itu."

Tatapan Rex kembali terfokus padaku. "Tapi kamu satu-satunya orang yang pengin aku ajarin soal logaritma itu."


*Inhaler, aku butuh inhaler. Secepatnya!*

Yah, serumit apa pun logaritma, kalau Rex yang ngajarin, aku sih mau-mau aja, ^0^

Pada intinya, sama seperti pendahulunya, novel ini bagus banget. Nggak nyesel pokoknya kalau baca series ini. Kita akan disuguhkan dengan kehidupan keluarga yang penuh canda, tawa, juga masalah. 


Penampakan bookmark-nya
*I got Rex!! Yippi!*


Untuk 4/4, warna pinggirannya adalah ungu.



 

  

“Karena selain keluargaku, 4R adalah sumber kebahagiaanku. Mereka semua 4/4, sama besarnya.”


 
4.35 / 5.00 J for this amazing novel ^_^

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe



Dhea on Wattpad