Before The Dawn

[FanFiction / FF / FanFic] Before The Dawn - Chapter 5

Mei 23, 2016









Akhirnya mereka selesai mempersiapkan segalanya, mulai dari tenda, hingga api unggun.

Menjelang malam, mereka bersenda gurau bersama, bernyanyi sambil diiringi alunan gitar nan merdu dari Myungsoo, ditemani api unggun yang menghangatkan mereka di tengah udara dingin di malam itu.

“Ya~~ Perlu kalian ketahui, kalian hanya boleh tidur lewat dari jam 12 malam.” Ucap Sungkyu.

“Kenapa begitu?” tanya Hyena.

“Karena besok adalah ulang tahun Woohyun, jadi setidaknya kita harus memberinya kejutan pada tengah malam.” Jawab Sungkyu.

“Ya~~ Hyung, kau bilang ingin memberiku kejutan bahkan saat ada aku di sampingmu? Apa itu masuk akal?” ucap Woohyun.

Sungkyu hanya tersenyum kecil.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba – tiba Sungyeol nyeletuk.

“Nami-ya, bersiaplah untuk mendapat kejutan dari Woohyun hyung.”

“Kejutan apa?” tanya Nami penasaran.

“Nanti Woohyun hyung akan............”

“Aigoo~~ Jangan percaya perkataannya. Anak ini memang suka bercanda.” Ucap Myungsoo sembari memukul kepala Sungyeol.

“Apo!!” keluh Sungyeol.

“Kau lupa perjanjian kita tadi? Kau tidak boleh banyak berbicara. Ok?” bisik Myungsoo.

Untung saja Myungsoo sigap menahan Sungyeol. Setidaknya itu mengamankan Woohyun.


*********** ********* ***********


Tepat jam 12, Sungkyu dan lainnya menyenandungkan lagu selamat ulang tahun untuk Woohyun, disertai beberapa nasehat dan harapan untuk Woohyun.

“Hyung~~ Terima kasih telah menjadi kakak terbaik. Saranghae~~” ucap Sungjong.

“Hyung-ah, jangan suka melamun dan terlalu memikirkan sesuatu. Itu akan membuatmu cepat tua.” Ucap Myungsoo.

“Hyung, aku berharap kau akan semakin sering membelikanku makanan.” Ucap Sungyeol.

“Woohyun-ah, kau tumbuh semakin dewasa. Kau harus lebih bijak dalam menghadapi sesuatu. Kami akan selalu ada di sampingmu jika kau membutuhkan bantuan. Kami juga akan selalu mendukungmu.” Ucap Sungkyu.

Kemudian, Hyena menyenggol Nami.

“Nami-ya, kado untuk Woohyun kenapa tidak kau berikan padanya?”

“Ne?” Nami tampak terkejut.

“Kado? Aigoo~~ Nami-ya, kau sudah mempersiapkan kado untuk Woohyun?” ucap Dongwoo.

“Ah~~ Ani...... Itu....”

“Eh, aku punya usul. Bagaimana kalau kita bermain game?” ucap Sungjong.

Semua sepakat. Akhirnya mereka menghabiskan waktu untuk bermain, sampai tak terasa fajar hampir menyingsing. Tampak semua sudah lelah, dan hendak masuk ke dalam tenda. Tapi Woohyun menahan langkah Nami.

“Nami, bisakah kau tetap di sini? Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu.” Ucap Woohyun.

“Ne. Hyena-ah, kau masuk dulu. Sebentar lagi aku menyusul.” Ucap Nami.

“Mwoga?” tanya Nami.

Woohyun nampak ragu – ragu. Antara mengatakannya atau tidak.

“Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan kembali ke tenda.” Ucap Nami serayak berbalik arah menuju tenda.

“Maukah kau menjadi kekasihku?” tanya Woohyun spontan.

Nami pun sontak menghentikan langkahnya. Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Ne?” tanya Nami.

“A...aku..... aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak dulu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

“Jangnan aniya.” Ucap Nami.

“Jinsileyo. Nami-ya, tatap mataku. Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?” Woohyun memegang kedua lengan Nami erat dan menatap matanya dengan tajam, bahkan Nami tak sanggup untuk membalas tatapan itu.

Sekitar 3 menit mereka bertahan dengan posisi seperti itu.

“Apa jawabanmu?” tanya Woohyun.

Perlahan Nami mengangkat wajahnya.

“N..nami-ya, kenapa.... kenapa kau menangis?”

“Molla. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.”

“L..lalu jawabanmu?”

Nami tersenyum lalu memeluk Woohyun.

“Nami-ya, peluknya nanti saja. Sekarang aku minta jawabanmu.”

“Pabo ni? Apa kau tidak bisa menangkap maksudku ini?”

“Aniya~~ Tapi aku butuh jawabanmu.”

“Apa harus aku jawab? Apakah ini tidak cukup?” ucap Nami sambil merekatkan pelukannya.

“Nami-ya, aku serius. Sekarang sudah hampir fajar.”

“Memangnya kenapa?”

“Nanti saja aku ceritakan, yang penting kau jawab dulu.”

“Isanghae~~”

“Nami-ya~~ Jebal~~~”

“Aigoo ~~ Arasseo.... Nam Woohyun, aku juga menyukaimu. Keutji?”

“Nami-ya~~” Woohyun segera memeluk Nami erat lalu mencium keningnya.
Bagaikan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain bisa menghilangkan kutukan itu, Woohyun juga bisa mendapatkan cinta Nami.
Selang beberapa menit kemudian, matahari mulai menampakkan terangnya.

“Aigo~~~ Berpelukan di tempat seperti ini. Apa tidak ada tempat lain?” ucap seseorang.

“Neo! Bukankah kau... peramal itu?” tanya Woohyun heran.

“Eonni!!” ucap Nami.

“Eonni? Dia kakakmu?”

“Ne~ Kau sudah lupa dengannya? Terakhir kali kau datang ke rumahku bukankah kau aku kenalkan dengan kakakku?”

“Ah~~ Pantas, aku seperti pernah melihatnya. Dasar bodoh, kenapa aku bisa lupa.” Batin Woohyun.

“Lalu... Ramalan itu?”

“Bbongiya!!!” ucap Sungkyu.

“Hyung..... Apa maksud semua ini?”

*********** ********* ***********

“Karena aku harus menyelesaikan studi di Prancis, aku jarang ke Korea. Tiap kali aku pulang, adikku ini selalu saja menceritakan tentang dirimu. Mulai dari kau mengajaknya membolos, kau memberikannya hadiah, sampai saat kau mengatakan cinta pada gadis. Adikku ini amat sakit hati saat tahu kau menyukai gadis lain. Entah sudah berapa banyak air mata ia keluarkan untukmu. Sejak awal bertemu denganmu, adikku ini sudah mulai menyukaimu. Tiada hari tanpa memikirkanmu. Bahkan menginjak bangku kuliah pun dia tetap memikirkan dan menyukaimu. Namun dia tidak berani mengungkapkannya. Karena baginya laki-lakilah yang mengungkapkan cinta dan si gadis yang berhak menolak atau menerimanya. Karena itulah dia terus menunggu, dan menunggu kau mengungkapkan cinta padanya. Namun kau juga tidak kunjung mengungkapkan. Bahkan adikku ini sempat frustasi karena semenjak kuliah kau semakin menjauh darinya. Perlu kau ketahui adikku sengaja masuk universitas yang sama denganmu. Agar bisa terus melihatmu. Dia juga mengeluh padaku karena kau menganggapnya menyukai Hoya. Dia marah karena merasa kau itu sangat bodoh sehingga tidak menyadari kalau adikku menyukaimu. Sampai pada kondisi aku jenuh melihat kondisi ini. Lantas diam-diam aku membuka catatan Nami dan kutemukan alamatmu. Lalu aku memutuskan untuk ke rumahmu guna menyelesaikan masalah ini.” Ucap Sunmi –kakak Nami-.

“Dan kebetulan saat itu aku yang membukakan pintunya.” Ucap Sungkyu.

*flashback*

“Apa Nam Woohyun berada di rumah?” tanya Sunmi.

“Ouh, dia baru saja keluar. Tapi sebentar lagi akan kembali. Hmm.. neon nuguya?” tanya Sungkyu.

“Nan Nami eui eonni, Park Sunmi”

“Oh, kau kakaknya Nami? Ada perlu apa? Eh, tidak enak bicara di sini. Masuklah.”

Sunmi pun menceritakan maksud dan tujuannya menemui Woohyun.

“Ah~~ Keurekuna. Jadi rupanya selama ini Nami juga menyukai Woohyun.”

“Jjamkkanman. Maksudmu, Woohyun juga..............”

“Ye~~ Dia juga menyukai Nami, bahkan sudah beberapa tahun lalu. Tapi sayang dia tidak punya nyali yang kuat.”

“Laki – laki yang tidak bisa diharapkan. Eh, tiba – tiba aku punya sebuah ide. Tapi aku butuh bantuanmu.” Ucap Sunmi.

Tiba – tiba Myungsoo datang.

“Hyung~~ Siapa dia?” tanya Myungsoo.

“Myungsoo-ya, dia Sunmi noona. Kakaknya Nami”

“Kau juga temannya Woohyun? Kebetulan. Untuk menyelesaikan masalah percintaan mereka, tampaknya kita harus turun tangan. Kita perlu kerja sama agar rencanaku bisa berjalan lancar. Kalian mau membantuku?” tanya Sunmi.

Sunmi lalu menceritakan semua rencananya.

“Aku setuju.” Ucap Sungkyu.

“Aku juga.” Ucap Myungsoo.

“Kita beritahu Sungjong dan Sungyeol.” Ucap Sungkyu.

“Jjamkkanman. Aku setuju jika hyung memberitahu Sungjong, tapi tidak dengan Sungyeol.”

“Wae?”

“Rencana kita bisa berantakan. Hyung tidak takut jika tiba – tiba Sungyeol membocorkan rencana kita pada Woohyun hyung?”

“Ah, matta. Anak itu terlalu sulit untuk diandalkan.”

“Baiklah. Nanti kalian akan kuhubungi untuk rencana selanjutnya. Keurom, aku pulang dulu.” Ucap Sunmi.

*********** ********* ***********

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe



Dhea on Wattpad