Before The Dawn

[FanFiction / FF / FanFic] Before The Dawn - Chapter 1

Februari 02, 2016


Repost from my previous blog. Hope you enjoy it ^^

Pagi itu langit kota Seoul sepertinya sedang tak bersahabat. Sedari tadi awan kelabu yang terus menampakkan dirinya. Hal itu selaras dengan yang terjadi pada Woohyun. Pemuda berusia 21 tahun itu tampak murung sedari tadi di salah satu sudut kampus.

”Woohyun-ah! Di sini kau rupanya. Dari tadi kami mencarimu.” ucap Sungkyu.

”Wae geurae? Sesuatu terjadi?” tanya Sungkyu lagi.

Tak ada tanggapan berarti dari Woohyun. Pandangannya masih saja kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.

”Hyung!! Apa kau kerasukan?”  tanya Sungyeol.

”Pabo ya!! Mana ada hantu di pagi hari seperti ini??” ucap Myungsoo.

Masih saja tak ada tanggapan berarti dari Woohyun.

”Betul ’kan apa kataku, dia memang sedang kerasukan hantu galau!” ucap Sungyeol.

”Aish..... Jinjja!!! Sikeuro!!” ucap Woohyun yang akhirnya buka suara juga.

”Apa ini gara – gara Nami?” tanya Sungkyu.

”K..k...kenapa hyung bisa tahu?”


”Tadi aku berpapasan di jalan.”

”Eh, bukankah tadi Nami sedang berjalan bersama dengan Hoya? Hmm, apa kalian sudah dengar gosip yang beredar kalau Hoya menyatakan cintanya pada Nami? Tapi masih belum ada jawaban dari Nami. Kalau aku jadi dia, sudah pasti aku terima. Siapa yang tidak ingin bersama dengan Hoya, dia pintar, tampan, kaya pula. Benar – benar....”

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Myungsoo keburu menghentikannya dengan cara menginjak kakinya.

”Apoo...” keluh Sungyeol.

”Tidak bisakah kau berhenti berbicara? Mulutmu itu terkadang memang perlu diplester supaya bisa diam!”
”Wae?? Memangnya aku salah berbicara? Bukankah apa yang aku katakan tadi memang benar?”

”Ye.... Dwaesseo, berbicara denganmu memang tidak akan pernah menang.” ucap Sungkyu.

”Tapi Woohyun-ah, jika memang kabar itu benar, toh Nami juga belum memberikan jawaban ’kan? Berarti masih ada jalan untukmu.” ucap Sungkyu lagi.

”Tapi Hyung, kemungkinan Nami menolak Hoya sangatlah kecil.” ujar Woohyun.

”Lalu, kau akan menyerah begitu saja, Hyung?” tanya Myungsoo.

”Aah, molla.....” ucap Woohyun.
*********** ********* ***********
”Nami-ya! Apa benar berita yang selama ini berkembang?” tanya Hyena, teman dekat Nami.

”Kabar apa?”

”Hoya mengatakan cintanya padamu. Apakah benar begitu?”

”Hmm, itu, .....”

”Berarti benar ’kan? Waah, akhirnya, setelah sekian lama akhirnya dia mengatakan padamu. Lalu, kau menerimanya ’kan?”

”Ne?”


Di tempat yang berbeda................
”Apa? Dia menolakmu?”

”Dongwoo hyung, apa kau perlu sehisteris itu?”

”Tapi kenapa? Bukankah dalam beberapa tahun ini kalian sangat dekat? Dia juga sangat baik terhadapmu?”

*Flashback*

”Maaf Oppa, aku tidak bisa menerimamu.”

”Begitukah? Tapi kenapa?”

”Selama ini kau begitu baik padaku, sangat baik malah. Tapi aku hanya menganggapmu sebagai sahabat, tidak lebih. Sifatmu yang baik itu membuatku merasa aman dan nyaman jika berada di dekatmu, tapi aku menganggapnya seperti seorang kakak yang melindungi adik perempuannya, dan aku tidak ingin semua ini berubah. Maafkan aku Oppa.”

”Jadi selama ini kau hanya menganggapku sebagai kakakmu? Tapi tidak bisakah kau menganggapku sebagai seorang lelaki?”

Nami menggelengkan kepalanya.

”Apakah memang tidak ada perasaan cinta yang kau rasakan padaku walau hanya sedikit?”

Nami menggelengkan kepalanya lagi.

”Oppa, di luar sana masih banyak gadis yang jauh lebih baik daripada aku. Terlebih lagi, masih banyak gadis yang mencintaimu dan menunggumu untuk mengungkapkan kepadanya. Tapi gadis itu bukan aku. Bukalah hati oppa untuk gadis lain, dan lupakan kau pernah punya perasaan padaku. Aku lebih suka hubungan kita seperti ini.”

”Oppa... maafkan aku. Tidak bisakah kita hubungan kita seperti ini saja? Seperti kakak dan adik.”

”Aku perlu memikirkannya. Maaf sudah membuatmu bingung seperti ini.” ucap Hoya yang lantas pergi meninggalkan Nami.
******* ********** *****

”Ya~~ Park Nami, neo jinjja pabo!!! Kau tahu berapa banyak gadis yang menginginkan hal itu terjadi pada mereka? Kau malah membuang kesempatan emas itu. Sekarang cepat kau kembali padanya, dan tarik semua ucapanmu. Bilang kalau kau juga cinta kepadanya!” ucap Hyena.

”Aku memang gadis yang bodoh, aku akui itu. Hyena-ah, hati manusia itu tidak bisa dipaksakan. Daripada aku menerimanya tapi hatiku tidak bersamanya, bukankah itu akan lebih menyakitinya? Kalau kau mau, kenapa kau tidak mencoba mengambil hatinya?”

”Micheonya? Dia sama sekali tidak tertarik padaku, dan lagi dia bukan tipeku.”

”Nah, kau juga tidak menyukainya ’kan? Lantas kenapa kau memaksaku untuk menyukainya?”

Hyena tidak bisa berkata apa – apa.

Sementara itu..................
”Hoya-ah, kau sabar saja. Aku yakin dia mengambil keputusan itu tanpa berpikir panjang. Tunggu saja sebentar, maka dia akan menerimamu, dan menyesali semua yang telah dia katakan padamu.”

”Benar begitu, Hyung?”

”Percayalah padaku.” ucap Dongwoo dengan penuh percaya diri.

*********** ********* ***********

”Woohyun-ah! Kau mau ke mana?” tanya Sungkyu.

”Aku pergi ke perpustakaan. Ada sesuatu yang harus aku cari.”

”Kalau begitu kita pergi dulu, nanti kutunggu di kantin!” ucap Sungkyu lagi.

Di perpustakaan.................

Begitu Woohyun melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan, sosok pertama yang dilihatnya adalah Nami. Ya, Park Nami. Gadis yang sudah beberapa tahun ini mengisi hatinya. Nami adalah teman Woohyun dari SMA. Woohyun baru menyukai Nami saat mereka duduk di kelas 3. Namun sayang, hingga sekarang Woohyun tak juga berani mengungkapkan perasaannya kepada Nami. Padahal kesempatan itu banyak datang padanya, karena mereka berdua adalah teman akrab. Namun bayang – bayang penolakan sudah menghantui Woohyun lebih dahulu. Dia memang punya pengalaman buruk tentang ditolak oleh gadis. Sejak SMA, sudah 10 gadis yang menolaknya. Oleh karena itulah, dia ragu – ragu untuk menyatakan cinta pada Nami, selain itu dia takut persahabatannya dengan Nami akan rusak.
Namun semenjak masuk bangku kuliah, persahabatan mereka tidak sedekat sewaktu SMA. Hal ini karena ada Hoya yang selalu menempel di dekat Nami, dan nampaknya Nami juga nyaman berada di dekat Hoya. Sosok Hoya yang pintar, tampan, banyak disukai gadis – gadis, serta kaya itu yang menyebabkan Woohyun seperti kalah sebelum berperang melawan Hoya. Perlahan Woohyun mulai menjauh dari Nami, mungkin bisa dibilang itu semua karena Hoya. Sekarang, entah mengapa tiap kali bertemu Nami, selain rasa deg-degan, juga rasa canggung tersemat dalam pikirannya.

”K...k..kau ada di sini juga.” ucap Woohyun memutuskan untuk menyapa terlebih dahulu.

”Woohyun-ah, lama tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu? Kenapa sekarang kau tak pernah lagi main ke rumahku? Telepon / SMS juga jarang, apa kau marah padaku?”

”B..b...bukan begitu, kau tahu sendiri jadwal kuliah sangat padat, selain itu aku juga harus berlatih bersama teman – teman bandku.”

”Ye... ye... arasseo, kau sekarang sangat sibuk. Saking sibuknya teman lama sampai dilupakan.”

”Keuge aniya!!!”

”Aku dengar Hoya menyatakan cinta padamu?”

”Mwo? Jadi kau juga mengetahuinya? Aish, sebenarnya siapa yang menyebarkan kabar seperti ini? Kau tahu, sedari tadi hal itu yang sering ditanyakan orang – orang padaku. Sebenarnya aku malu, bukankah ini privasi seseorang? Kenapa berita seperti ini dibesar – besarkan? Apa untungnya buat mereka mengetahui hal ini?”

”Ya~~ Semua hal yang menyangkut Hoya pastilah akan menjadi berita besar.”

”Ah, benar juga.”

”Lalu?”

”Lalu apa?”

”Kau menerimanya?”

”Apa aku juga perlu menjawabnya?”

”Ah, benar juga. Kau pasti menerimanya.”

”Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”

”Setiap gadis mengelu – elukannya. Dia pintar, populer, tampan, kaya pula. Segala hal yag diinginkan wanita dimilikinya. Tidak ada alasan untuk menolaknya ’kan?”

”Jadi di dalam pikiranmu aku adalah gadis yang seperti itu?”

”Ne?”

”Kau adalah temanku, kupikir kau akan tahu bagaimana diriku. Kau tahu, mendengar kata – katamu tadi membuatku merasa kecewa, membuatku merasa seperti gadis gampangan yang hanya menilai laki – laki dari luarnya. Seharusnya kata – kata itu tidak keluar dari seseorang yang menurutku telah mengenalku dengan baik!” Nami lantas pergi meninggalkan Woohyun dengan mata berlinang air mata. Ia nampak sangat kesal dengan Woohyun.

”Nami-ya!!! B...b..bukan maksudku untuk mengatakan hal itu!!!” ucap Woohyun berusaha mengejar Nami.
*********** ****** ***********

Suatu ketika di rumah Woohyun…………..

Woohyun, Sungkyu, Myungsoo, dan Sungyeol nampak sibuk berlatih di studio musik milik Woohyun.

”Keumanhae!!!!” ucap Sungkyu.

”Hyung! Wae? Padahal aku sedang asyik – asyiknya dengan drumku.” ucap Sungyeol.

”Apa kau tidak bisa dengar sedari tadi anak ini tidak bersungguh – sungguh berlatih? Dia kehilangan tempo, banyak fals, lupa lirik!” ucap Sungkyu sambil menunjuk ke arah Woohyun.

Merasa sedang diperbincangkan, Woohyun buka suara.

”Mian.... Aku sedang tidak fokus.”

”Kali ini, apalagi yang mengganggumu?” tanya Myungsoo.

”Istirahatlah sebentar. Kalian pasti lelah sedari tadi berlatih. Ini, bibi bawakan kue dan minuman. Ayo dimakan, mumpung masih hangat!” ucap Ibu Woohyun.

”Omoni, tidak usah repot – repot.” ucap Myungsoo malu – malu.

”Ya~ Kau ini seperti baru pertama kali ke sini saja. Sudahlah, tidak usah sok sungkan seperti itu. Omoni, kue buatanmu semakin hari semakin enak! Aku akan sering – sering mampir ke sini” ucap Sungyeol.

”Ah, Sungyeol-ah, kau ini memang pintar memuji. Makanlah, kalau sudah habis bibi buatkan lagi.”

Kemudian Ibu Woohyun berlalu. Sedetik kemudian, muncullah Sungjong, adik Woohyun.

”Hyung!”  sapa Sungjong.

”Ya~~ Kau darimana saja? Bukankah hari ini hari libur?” tanya Woohyun.

”Tadi aku ada urusan sebentar. Eh, Sungyeol hyung, kapan kau mau mengajariku bermain drum? Kau selalu bilang akan mengajariku, tapi mana? Sampai sekarang kau belum juga mengajariku.”

”He~~ Mian Sungjong-ah. Kau tahu sendiri ’kan, jadwalku sangat padat, jadi aku sering lupa jika membuat janji.”

”Memang dasar kau pelupa. Jangan mencari modus!” ucap Myungsoo.

”Kau ini~~” ucap Sungyeol.

”Woohyun-ah, kita kembali ke masalah awal. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Sungkyu.

Sempat ragu – ragu, namun akhirnya Woohyun menceritakan apa yang dialaminya bersama Nami beberapa hari yang lalu.

Mendengar itu, semua yang ada di studio itu tertawa terbahak – bahak.

”Ya~~ Kalian, kenapa malah tertawa? Apa kalian tidak berempati padaku?”

”Woohyun-ah, neo jinjja pabo!!! Siapa suruh kau mengatakan hal itu pada Nami. Kau tahu sendiri sifat Nami, dia sangat sensitif.” ucap Sungkyu.

”Hyung, sebodoh – bodohnya diriku, setidaknya di depan para gadis aku tidak akan melakukan sesuatu sepertimu.” ucap Sungyeol.

”Ah~~ dwaesseo~~ Jika tahu kalian akan menertawakan aku seperti ini, aku tidak akan menceritakannya pada kalian.” ucap Woohyun.

”Hyung, kau sensitif sekali. Begitu saja marah. Sudahlah, kau jangan khawatir. Tunggu beberapa hari, pasti Nami akan memaafkanmu.” ucap Myungsoo berusaha menenangkan Woohyun.

”Geuraeyo?” tanya Woohyun.

”Geureomyeon. Asalkan kau minta maaf dengan baik – baik, dengan tulus, dan tanpa menyinggung perasaannya.” ucap Myungsoo.

”Hyung, sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti.” ucap Sungjong.

”Uri Sungjongie masih terlalu muda untuk mengerti masalah asmara. Kelak, kau juga pasti akan mengerti.” ucap Sungkyu.

”Eh,. Aku ada ide, bagaimana jika kita pergi jalan – jalan ke Mall? Hitung – hitung melepaskan penat. Eottae?” tanya Sungeol.

”Call!” ucap Sungkyu dan Myungsoo bersamaan.

”Apa aku boleh ikut?” tanya Sungjong.

”Tentu saja.” ucap Sungyeol.

”Woohyun-ah, bagaimana denganmu?” tanya Sungkyu.

”Baiklah. Aku juga bosan di rumah terus.” ucap Woohyun.

*********** ****** ***********

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe



Dhea on Wattpad